Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban Jakarta - Tantangan pemerintah memangkas angka backlog rumah tak melulu datang dari pembiayaan maupun penyediaan, namun juga dari perilaku masyarakat sendiri.
Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti mengungkapkan masih banyak masyarakat yang gagal diterima pengajuan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) nya lantaran terganjal oleh BI checking. Ini yaitu fitur di Bank Indonesia yang merekam semua acara kredit.
Masyarakat kata beliau terlanjur banyak menggunakan kredit konsumtif menyerupai kendaraan sampai barang-barang lainnya, sementara kecukupan kemampuannya dalam mencicil KPR dirasa tak lagi sanggup.
"Banyak yang potensial ambil KPR tapi enggak lolos BI checking alasannya yaitu sudah terlalu banyak ambil kredit konsumtif. Makanya penting edukasi masyarakat mengelola keuangan dengan baik, jadi punya prioritas mendahulukan kepentingan utama dibanding yang sifatnya konsumtif," katanya ketika ditemui di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Rabu (30/8/2017).
Lana mengakui, pemerintah ketika ini juga tengah fokus menunjukkan edukasi ke masyarakat supaya bisa mengelola keuangannya dengan baik. Salah satunya yaitu lewat jadwal pembiayaan mikro perumahan untuk pekerja informal yang bakal diluncurkan.
"Kita butuh edukasi masyarakat untuk merubah paradigmanya supaya tak konsumtif tapi menjadi punya rumah dulu dari pada punya kendaraan beroda empat mewah dulu dan sebagainya," ujarnya.
Pihaknya juga berkeliling ke daerah-daerah untuk memetakan potensi MBR yang ada di tiap tempat supaya bank mengetahui konsumen yang dituju dengan baik.
"Selain mereka unbankable, banyak juga yang belum bisa kelola keuangannya. Masih banyak yang termakan dengan kredit konsumtif. Ada guru-guru yang gajinya cukup besar tapi take on pay nya yang bisa dibawa pulang hanya Rp 750 ribu, sisanya sudah digunakan untuk kredit konsumtif," tukasnya. Sumber detik.com